
Namanya Pak Nur Halim (45 th) atau biasa dipanggil Pak Halim menjalani hari-harinya sebagai seorang suami, ayah, sekaligus pencari nafkah bagi keluarganya. Meski tidak dapat melihat, beliau tidak pernah berhenti berusaha. Dengan kemampuan yang dimiliki, Pak Halim mengajar Al-Qur'an Braille kepada penyandang tunanetra lainnya, baik secara perorangan maupun dalam komunitas.

Aktivitas mengajar itu bukan hanya bentuk pengabdian, tetapi juga menjadi salah satu sumber penghasilan keluarga.
Sayangnya, penghasilan tersebut tidak menentu. Dalam sekali mengajar, Pak Halim paling banyak menerima sekitar 150 ribu rupiah, sedangkan ngajarpun hanya berlangsung sekitar satu kali dalam seminggu. Di luar itu, beliau sesekali menerima panggilan untuk memijat agar ada tambahan biaya hidup. Akan tetapi, tidak semua pengalaman yang beliau alami menyenangkan.Suatu ketika, Pak Halim diminta untuk memberikan pijatan kepada seorang perempuan. Dengan sopan, beliau menyampaikan bahwa dirinya tidak dapat memenuhi permintaan tersebut karena ingin menjaga prinsip yang diyakininya. Namun niat baik itu justru berujung pada perdebatan. Pak Halim dimarahi dan mendapat perlakuan yang membuatnya sedih. Padahal saat itu, beliau hanya berusaha mencari nafkah dengan tetap menjaga nilai yang selama ini ia pegang.

Kebutuhan keluarganya jauh lebih besar daripada penghasilan yang diperoleh.
Sang istri yang juga seorang tunanetra sejak lahir kini harus menjalani pengobatan rutin setelah didiagnosis mengalami penyumbatan pembuluh darah di otak. Meski masih bisa melihat sedikit cahaya, kondisinya membuat ia harus kontrol dan menjalani fisioterapi secara berkala.

Dengan penghasilan yang tidak banyak, pak halim harus berusaha memenuhi kebutuhan keluarga juga pengobatan sang istri.
Belum lagi tagihan listrik dan iuran lingkungan yang harus dibayar setiap bulan. Sementara di tahun ini, putra mereka yang berusia 5 tahun akan mulai masuk PAUD dan membutuhkan perlengkapan sekolah serta biaya pendidikan yang harus dipersiapkan.
Di tengah semua kebutuhan itu, keluarga kecil ini tinggal di rumah peninggalan orang tua yang kondisinya semakin memprihatinkan.Tembok rumah mulai mengelupas dan lapuk dimakan usia. Beberapa bagian atap sering bocor ketika hujan turun.

Sebagai orang tua, Pak Halim dan istrinya tentu khawatir kondisi rumah yang terus menua dapat membahayakan anak mereka yang sedang aktif bermain dan tumbuh. Namun di tengah segala keterbatasan tersebut, Pak Halim tidak pernah berhenti mengajar. Beliau tetap meluangkan waktu untuk membimbing para penyandang tunanetra belajar membaca Al-Qur'an Braille.

Tetap berusaha menerima pekerjaan pijat ketika ada kesempatan.
Tetap berjuang menjadi ayah yang ingin memberikan masa depan yang lebih baik untuk anaknya.Hari ini kita bisa membantu meringankan perjuangan Pak Halim dan keluarganya. Dukungan yang diberikan akan membantu kebutuhan hidup sehari-hari, biaya pengobatan sang istri, kebutuhan sekolah putra mereka, serta membantu perbaikan rumah pak halim.
💛 Mari bantu Pak Halim dan tunanetra lainnya bertahan hidup. Karena bagi mereka yang tetap memilih berjuang di tengah kerasnya hidup, sedikit kepedulian dari kita bisa menjadi harapan besar untuk terus melangkah.
![]()
Menanti doa-doa orang baik