
Tunanetra Berprestasi Ini Kini Berjuang Menjadi Tulang Punggung Keluarganya
Sejak lahir, Teh Alifa hidup dengan keterbatasan penglihatan. Mata kanannya mengalami kebutaan total. Sementara mata kirinya hanya mampu melihat secara terbatas.

Namun, keterbatasan itu tidak pernah membuat Teh Alifa berhenti bermimpi.
Di usia 29 tahun, Teh Alifa berhasil menyelesaikan pendidikan hingga menjadi seorang Sarjana Pendidikan Khusus, bidang yang mempelajari pendidikan bagi anak-anak dan individu dengan kebutuhan khusus, termasuk penyandang disabilitas.
Bagi Teh Alifa, keterbatasan bukan alasan untuk berhenti berkembang. Ia aktif diberbagai kegiatan sosial disabilitas, tertarik pada dunia public speaking, serta sering berbagi bagai pengalaman dan pengetahuan mengenai isu-isu disabilitas. Kemampuannya menmdapat kesempatan untuk menjadi narasumber dan trainer dalam berbagai kegiatan.

Teh Alifa adalah sosok yang memiliki potensi. Ia punya ilmu. Ia punya kemampuan. Ia punya semangat untuk terus berkarya dan memberikan manfaat bagi banyak orang.
Namun hari ini, perempuan kuat ini sedang menghadapi perjuangan yang tidak mudah.
Sejak ayahnya pergi ketika Teh Alifa masih berusia satu tahun, sang ibu membesarkannya seorang diri. Bertahun-tahun, ibunya bekerja keras menjadi
seorang MUA demi memenuhi kebutuhan keluarga dan memastikan Teh Alifa bisa terus bersekolah.
Kini, keadaan telah berubah. Sang ibu didiagnosis mengalami lemah jantung dan harus menjalani kontrol kesehatan secara rutin setiap bulan.

Di rumah yang sama, Teh Alifa juga tinggal bersama sang kakek yang telah lanjut usia dan baru-baru ini mengalami stroke ringan. Kondisi tersebut membuat sang kakek juga membutuhkan perhatian dan pemeriksaan kesehatan.
Hari ini, dua orang yang dulu menjadi bagian dari tempat Teh Alifa bersandar, justru membutuhkan dirinya untuk tetap kuat. Dan Teh Alifa ingin menjaganya.
Namun di tengah tanggung jawab yang begitu besar, kontrak kerja Teh Alifa berakhir pada Februari lalu. Sejak saat itu, ia belum kembali memiliki pekerjaan tetap.
Saat ini, Teh Alifa hanya mengandalkan panggilan sebagai narasumber atau trainer. Penghasilannya tidak menentu. Jika ada panggilan, dalam sebulan ia bisa mendapatkan sekitar Rp500.000.
Namun tidak setiap bulan ada panggilan.
Sementara kebutuhan keluarga tidak bisa menunggu. Ada biaya kontrol kesehatan ibu. Ada kebutuhan pemeriksaan dan perawatan sang kakek. Ada kebutuhan makan sehari-hari. Ada tagihan listrik dan air yang harus tetap dibayarkan setiap bulan. Semua itu kini menjadi tanggung jawab Teh Alifa.

Sobat Rubin, bantuan yang kita berikan dapat membantu Teh Alifa memenuhi kebutuhan dasar keluarganya, meringankan biaya kontrol dan pengobatan sang ibu dan kakek, serta menjadi penopang sementara hingga Teh Alifa kembali mendapatkan pekerjaan yang lebih stabil.
Mari kita bantu seorang perempuan tunanetra yang telah membuktikan bahwa keterbatasan tidak pernah mampu membatasi potensi dan prestasinya. Hari ini, bisa jadi dukungan kita adalah alasan Teh Alifa untuk tetap melangkah.
-
September, 1 2026
Campaign is published
