
Setiap Langkahku Butuh Pegangan. Hari Ini, Bolehkah Kamu Jadi Peganganku? — Alesya, 10 tahun, cerebral palsy
Sobat Rubin, tidak semua anak bisa berlari pulang ke rumah setelah sekolah. Alesya. 10 tahun. Kelas 1 SDLB. Untuk bisa berdiri saja, ia masih harus berpegangan pada tembok, pada tangan ibunya, pada apa pun yang bisa ia raih.
Ia hidup dengan cerebral palsy. Kakinya belum bisa lurus sempurna, dan terapi yang seharusnya membantunya berjalan lebih stabil belum pernah sekalipun ia jalani. Bukan karena ibunya tidak peduli. Tapi karena sejak ayahnya pergi tanpa meninggalkan nafkah, tidak ada lagi yang tersisa. Yang ada hanya doa, dan tangan ibu yang selalu siap menjadi pegangannya.

Ibunya bekerja sebagai buruh setrika, dipanggil sesekali dengan upah Rp50.000 hingga Rp75.000. Tidak tetap, Tidak pasti. Ke mana pun ia pergi bekerja, Alesya selalu dibawa serta. Karena mereka hanya punya satu sama lain.
Mereka tinggal menumpang. Alesya, ibunya, kakak laki-lakinya, kakek dan nenek. berlima dalam satu rumah kecil yang sudah lama tak terurus. Lima di antaranya berbagi satu kamar sempit. Atapnya bocor, disangga kayu agar tidak ambruk di atas kepala mereka saat tidur. Satu-satunya yang bekerja tetap di keluarga itu adalah sang paman, seorang satpam, tulang punggung keluarga besar ini yang bahunya sudah terlalu berat untuk ditambah beban lagi.
Di sekolah, tunggakan SPP Alesya sudah mencapai Rp4 juta. Ibunya mencicil semampunya, sambil berharap suatu hari bisa melunasinya.
Di balik semua itu, Alesya adalah anak yang lembut dan penuh semangat. Ia tidak pernah mengeluh. Kegemarannya sederhana: mewarnai.

Dan satu hal yang paling mengiris hati —
‘Alesya tidak bisa melihat ibunya menangis’.
Setiap kali air mata ibunya jatuh, Alesya ikut terdiam, seolah ingin menguatkan ibunya dengan caranya sendiri yang sunyi. Padahal ia sendiri masih berjuang setiap hari hanya untuk bisa berdiri.

Hari ini, kita bisa menjadi bagian dari harapan Alesya. Donasi yang kamu titipkan akan membantu Alesya mendapatkan terapi rutin, meringankan tunggakan sekolahnya, memenuhi kebutuhan hariannya, serta menghadirkan tempat tinggal yang lebih aman. Bagi kita mungkin ini hanya sebagian kecil rezeki.
Bagi Alesya ini adalah langkah pertama yang selama ini ia tunggu.
![]()
Menanti doa-doa orang baik