
Pak Yaman (58 th), seorang guru honorer yang tetap mengabdi dengan segala keterbatasan yang dimiliki. Ia sudah mengabdi selama 37 tahun di sekolah MTs dan mengajar ngaji. Dengan penuh kesabaran, ia terus mendidik anak-anak meski penghasilan yang diterima hanya sekitar 90.000/bulan. Ironisnya, ongkos sekali jalan menuju sekolah mencapai 30 ribu rupiah. Jika dikalikan empat kali dalam sebulan, biaya transportasinya bahkan lebih besar daripada gaji yang ia terima.
Namun Pak Yaman tetap bertahan mengajar.

Sebab bagi beliau, menjadi guru bukan sekadar pekerjaan, melainkan pengabdian.

Di balik ketulusannya mendidik anak-anak, ada kehidupan yang begitu berat yang harus beliau jalani bersama keluarganya. Pak Yaman tinggal bersama istri dan tiga anaknya di rumah panggung sederhana yang sudah rapuh dimakan rayap. Saat hujan turun, atap rumah bocor di banyak bagian. Dinding dan lantainya pun mulai lapuk dimakan usia.

Yang paling membuat hati sesak, Pak Yaman dan istrinya pernah menahan lapar hingga 2 hari demi memastikan anak-anak mereka tetap bisa makan. Mereka memilih diam menahan perih di perut, sementara anak-anak tetap diberi makan seadanya.
Anak kedua Pak Yaman, Zahra, adalah anak yang pintar dan semangat sekolah. Namun sering kali ia tidak bisa berangkat karena tidak ada uang untuk ongkos dan bekal. Setidaknya dibutuhkan 15 ribu rupiah setiap hari agar Zahra bisa pergi belajar. Tapi saat uang itu tidak ada, Zahra hanya bisa tinggal di rumah meski sangat ingin sekolah.
Kadang keadaan juga memaksa Pak Yaman sendiri tidak mengajar karena tak memiliki ongkos untuk pergi.
Di tengah semua kesulitan itu, sang istri ikut membantu ekonomi keluarga dengan membuat gorengan kecil-kecilan dan menitipkannya di kantin sekolah Zahra. Jika habis terjual, penghasilan kotornya sekitar 50 ribu rupiah belum dipotong bahan-bahan. Tapi jika tidak habis, mereka hanya mendapat 10–20 ribu rupiah saja. Sisa gorengan mereka dibagikan kepada teman-teman Zahra atau rekan guru Pak Yaman agar tidak terbuang.
Namun perjuangan Pak Yaman jauh lebih besar dari sekadar soal ekonomi.

Sejak tahun 2006, Pak Yaman mengalami sakit pada kakinya. Berawal dari kehitaman di ujung kaki yang terus menyebar hingga membusuk. Demi menyelamatkan nyawanya, Pak Yaman harus menjalani amputasi hingga empat kali—satu kali di kaki kanan dan tiga kali di kaki kiri.

Seluruh harta yang dimiliki habis untuk berobat. Bahkan motor satu-satunya pun terpaksa dijual demi biaya pengobatan yang mencapai puluhan juta. Pak Yaman sempat merasa sangat terpuruk. Namun sebagai seorang ayah dan guru, ia mencoba bangkit kembali demi keluarganya.
Pak Yaman hanya memiliki satu harapan sederhana: ingin memiliki warung kelontong kecil di rumah agar bisa membantu membiayai kebutuhan keluarga, makan dan ongkos sekolah anak.
💛 Mari bantu Pak Yaman. Karena di balik tubuh yang terluka dan hidup yang penuh kekurangan, ada hati dan semangat seorang guru yang tetap mengabdi dan seorang ayah yang terus berjuang demi keluarganya.
Disclaimer : Donasi yang terkumpul akan digunakan untuk modal usaha Pak Yaman dan segala kebutuhan keluarganya selain itu akan digunakan untuk penerima manfaat lainnnya dalam implementasi program kolaborasi “Satu Langkah Seribu Mimpi” Rumah Bintang Indonesia dan Asih Bumi Insani.
![]()
Menanti doa-doa orang baik