
“Nggak lama saya sakit dan di PHK, istri saya pergi ninggalin saya. Mungkin saya sudah gak punya apa-apa lagi, sepeda motor dan semua barang berharga sudah di jual untuk biaya berobat dan kebutuhan sehari-hari”.Ucap Pak Maman sambil menangis.
Namanya Pak Maman. Ia kini menjalani hari-harinya seorang diri dan tinggal di sebuah rumah kontrakan kecil yang sudah menunggak selama berbulan-bulan. Tidak ada keluarga di sisinya, tidak ada tempat mengadu. Hanya kesunyian dan sakit yang terus menemani.

Tahun 2016, Pak Maman mengalami kecelakaan yang menyebabkan lututnya cidera. Awalnya hanya diurut dan diberi obat herbal karena keterbatasan biaya. Namun rasa sakit semakin hari semakin parah. Hingga akhirnya, setelah memaksakan diri berobat ke rumah sakit, dokter mendiagnosa Pak Maman mengidap tumor di lutut.

Sakit yang diderita Pak Maman membuatnya tak bisa bekerja. Ia pun di-PHK. Kondisi fisik yang melemah, kehilangan pekerjaan, dan tekanan hidup membuat keluarganya pergi. Istri dan kedua anaknya meninggalkan Pak Maman seorang diri. Sejak saat itu, ia hidup dengan mengandalkan belas kasihan tetangga untuk makan.
”Saya sudah coba cari kerjaan, namun banyak yang nolak karena saya cacat dan dengkul kaki saya sering keluar darah dan nanah yang menimbulkan bau tak sedap. Itulah kenapa saya tutup dengkul saya pakai popok, agar darah dan nanah gak keluar” Ujar beliau.


Pak Maman tersadar bahwa hidup harus diperjuangkan, walaupun tertatih-tatih. Ia tak menyerah. Meski dengan kaki terpincang-pincang, menahan nyeri, ia pergi ke pasar. Berkeliling menawarkan jasa sebagai kuli panggul pasar, ia hanya bisa mengandalkan tenaga untuk menyambung hidup, setiap hari. Namun penghasilannya tidak menentu, kadang dapat Rp10.000–Rp15.000/ hari, itu pun jika ada yang memakai jasanya. Tak jarang ia ditolak, bahkan dijauhi, karena kondisi tubuh dan bau tak sedap yang sering tercium akibat penyakitnya.
“Izin Bu, saya bantu bawa barangnya ya?”, “Mbak, barangnya saya bantu angkat ya?”. Ucap pak maman
Sudah bertahun-tahun Pak Maman tak bertemu anak-anaknya. Ia sangat ingin bertemu, namun uang yang ada bahkan sering kali tak cukup untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari.
”Saya kangen banget ingin ketemu anak saya, tapi saya gak punya apa apa. Gak punya ongkos buat ketemu anak saya. Makan sehari-hari aja kekurangan apalagi ngasih buat anak-anak” Ungkapnya.

Tak ada kerabat. Tak ada sahabat. Hanya Pak Maman dan perjuangannya. Pak Maman hanya punya harapan sederhana, ia ingin membangun usaha agar tak perlu berjalan jauh keliling pasar, agar sakitnya tak semakin parah, melanjutkan pengobatan, dan bisa mencukupi biaya kebutuhan sehari-hari serta biaya kontrakan.
Sobat Rubin, Pak Maman tak meminta banyak. Ia hanya ingin hidup cukup dan layak. Mari kita temani langkah pak maman. Setiap rupiah yang kita titipkan akan sangat berarti untuk Pak Maman bangkit kembali. Karena di tengah kesendiriannya, uluran tangan kita bisa menjadi alasan Pak Maman tetap bertahan hidup. Jangan biarkan Pak Maman berjuang sendirian.
Disclaimer : Donasi yang terkumpul akan digunakan untuk memenuhi segala kebutuhan Pak Maman. Selain itu akan digunakan untuk penerima manfaat lainnya dalam program kolaborasi “Satu Langkah, Seribu Mimpi” Yayasan Rumah Bintang dan Ruang Harsa Bestari.