
Sobat Rubin, pernahkah kamu membayangkan! dengan kaki yang tak sempurna, tubuh yang terbatas sejak lahir, di usia 59 tahun masih memilih untuk berjalan keliling 3 kilometer setiap hari demi berjualan kue kering?
Itulah Mak Nonok. Bukan karena ia tidak punya pilihan lain. Tapi karena di pundaknya, ada seorang kakak tua berusia 73 tahun yang ia cintai. Dan di hatinya, ada kepedulian yang tak pernah padam.

Sejak bayi, Mak Nonok sudah disambut dengan kata-kata yang menyayat hati. Dulu waktu Nonok masih bayi, banyak orang yang menghina fisiknya. Katanya anak seperti ini cuma bakal nyusahin hidup, buang aja ke sungai.
— Mak Aning, kakak Mak Nonok, 73 tahun
Tapi Mak Aning tak pernah melepasnya. Ia merawat Mak Nonok dengan penuh kasih sejak kedua orang tua mereka tiada. Kini, di usia senja mereka, Mak Aning adalah satu-satunya pelita bagi Mak Nonok. Tanpa suami, tanpa anak, mereka hanya memiliki satu sama lain—bertahan hidup di dalam rumah sempit peninggalan orang tua yang menjadi saksi bisu perjuangan mereka.
Hinaan tak berhenti di masa kecil. Saat berjualan pun, Mak Nonok masih harus menelan pahit — tatapan sinis orang dewasa, atau celotehan anak kecil yang tanpa sadar berkata Sibuntung… Mak Nonok hanya bisa diam. Namun ia terus berjalan. Setiap hari.

Dari pagi hingga siang, Mak Nonok menjajakan kue keringnya. Penghasilan kotor per hari hanya sekitar Rp50.000 hingga Rp80.000 — belum dipotong modal bahan. Tak jarang ia pulang dengan tangan hampir kosong.
Tapi di tengah keterbatasan itu, Mak Nonok melakukan sesuatu yang membuat banyak orang tertegun. Saat mendengar kabar bencana banjir bandang yang menghantam Aceh dan Sumatera, hatinya tak tahan. Tanpa banyak kata, ia menuliskan pesan kecil di lapak jualannya:
Sebagian hasil penjualan akan disisihkan untuk korban bencana di Sumatra.

Kalau kita masih bisa bantu orang lain, berarti Allah SWT masih kasih kita kemampuan. — Mak Nonok
Satu Harapan Sederhana Sebuah Motor Roda Tiga yang Mengubah Segalanya Mak Nonok tidak meminta banyak. Satu harapan yang ia genggam: sebuah motor roda tiga agar ia bisa berbelanja bahan dagangan dengan lebih mudah, berjualan dengan lebih aman, dan beraktivitas dengan lebih layak di sisa hidupnya.

Hari ini, giliran kita yang berjalan bersamanya. Setiap rupiah yang kamu titipkan adalah kaki kedua bagi Mak Nonok untuk terus melangkah.
Disclaimer: Donasi yang terkumpul akan digunakan untuk pengadaan unit motor roda tiga (modifikasi difabel) bagi Mak Nonok, modal usaha kue kering, serta pemenuhan kebutuhan pokok dan kesehatan Mak Nonok bersama kakaknya, Mak Aning. Selain itu akan digunakan untuk penerima manfaat lainnya dalam implementasi program kolaborasi “Satu Langkah, Seribu Mimpi” Yayasan Rumah Bintang dan Global Sedekah Movement.